"Hi..., boleh saya duduk disini ?" kulihat seorang pria berdiri dan bertanya sambil tersenyum dengan manisnya "oh, silakahkan" jawabku sambil menggeser ke tempat duduk yang berada tepat diding kaca bus. Beberapa menit berlalu tanpa ada satu patah katapun yang terucap dari mulit kita berdua, rasa canggung itu sudah pasti namun aku tidak tahu harus bagaimana untuk mencairkan suasana ini yang kurasa waktu terasa berhenti seketika.
Tiba - tiba aku mendengar suara terucap jelas di telingaku "mau kemana?" tanya laki - laki yang berada duduk persis disampingku sambil menolehku memberi senyuman."oh, saya.. saya mau pulang tapi dari rumah saya pamit pergi" laki - laki itupun tersenyum dengan penuh kebinggunggan yang jelas terlihat dari matanya "enggak ko, aku becanda serius amat mas nanggepinnya " ucapku sambil tersenyum dan dia pun tertawa membalas senyumku " kamu sendiri mau kemana" tanyaku sedikit ragu karena aku takut di bilang ingin tahu alias kepo "aku sekolah di bandung kebetulan kemarin sabtu aku habis balik minta uang jajan" ucap dia dengan jelasnya dan akupun terbinggung - binggung mendengar jawabnya. "aneh yaa... udah segede ini masih minta uang jajan sama oirangtua" ucapku sedikit pelit "ya iyalah akukan masih jadi anaknya juga gak ada salahnya kan?, jelasnya " iaa sih tapiiii... " ucapku yang setengah terpotong karena takut dia tersinggung dengan ucapannku " serius amat jawabnya becanda kaliii.." balasnya padaku membalikan ucapanku diawal dan akupun melongo terkaget - kaget dan sedikit nyengir tak jelas "oiaa btw katanya kamu pulang tapi kamu juga bialng kamu pergi, maksudnya?," tanyanya yang mulai sedikit aku meles untuk menjawabnya " Oh... itu nggak kok aku cuma becanda, enggak maksud aku itu aku mau pulang nenggokin orangtuaku" jawabku " Oh, Ok " jawab laki - laki yang duduk di sampingku. "sepertinya kamu orangnya suka becanda juga yaa.. tegasnya padaku "iyaa.. gak harus serius - serius amatkan.. biar gak cepet tua.. " jelasku sedikit ngarang.
Tanpa terasa waktupun berlalu dengan cepatnya dan obrolan kitrapun sampai pada titik dimana kita harus berpisah "makasih ya udah jadi teman duduk yang asik" ucap laki - laki itu sambil tersenyum " Oh, it's Ok makasih juga yaa udah bikin perutku sakit karena becandaanmu yang garing" tempasku "garing tapi ko sakit perut yang amana nih yang asli.. " tanyannya sambil tetep becanda "iya iyaaa... kocak ko pake banget malah" jawabku.
Bus pun berhenti tepat di pemberhentiannya, dan sekali lagi akupun tersadar dengan teriakannya pak sopir dari depan sana ternyata aku telah sampai di terminal cicaheum terminal yang sudah tidak asing lagi bagiku. Semua penumpang turun bergantian sementara aku masih tenagnya duduk di bangkuku karena dia yang di sebelahku seolah tak mmberiku jalan untuk melangkah. Kitapun saling pandang mata kita saling tatap namun bibir kita tak sedikitpun berucap ingin rasanya aku berkata selamat tinggal namun dia seolah tak memberiku alasan untuk itu.
"Hati - hati yaa... " ucapnya padaku sambil tersenyum "Oh, Ok.. " jawabku sedikit gugup sambil memandangi matanya dan langkahpun sekan berat seperti tak ingin berpisah. Kita pun berjalan berlawanan arah menuju ke tempat yang kita tuju, dan aku pun baru tersadar ternyata dari waktu yang kita lewati, cerita yang kita bagi, tawa yang menemani, dan jarak perjalanan kita lalaui ternyata aku tidak tahu siapa namamu..
Tanpa terasa waktupun berlalu dengan cepatnya dan obrolan kitrapun sampai pada titik dimana kita harus berpisah "makasih ya udah jadi teman duduk yang asik" ucap laki - laki itu sambil tersenyum " Oh, it's Ok makasih juga yaa udah bikin perutku sakit karena becandaanmu yang garing" tempasku "garing tapi ko sakit perut yang amana nih yang asli.. " tanyannya sambil tetep becanda "iya iyaaa... kocak ko pake banget malah" jawabku.
Bus pun berhenti tepat di pemberhentiannya, dan sekali lagi akupun tersadar dengan teriakannya pak sopir dari depan sana ternyata aku telah sampai di terminal cicaheum terminal yang sudah tidak asing lagi bagiku. Semua penumpang turun bergantian sementara aku masih tenagnya duduk di bangkuku karena dia yang di sebelahku seolah tak mmberiku jalan untuk melangkah. Kitapun saling pandang mata kita saling tatap namun bibir kita tak sedikitpun berucap ingin rasanya aku berkata selamat tinggal namun dia seolah tak memberiku alasan untuk itu.
"Hati - hati yaa... " ucapnya padaku sambil tersenyum "Oh, Ok.. " jawabku sedikit gugup sambil memandangi matanya dan langkahpun sekan berat seperti tak ingin berpisah. Kita pun berjalan berlawanan arah menuju ke tempat yang kita tuju, dan aku pun baru tersadar ternyata dari waktu yang kita lewati, cerita yang kita bagi, tawa yang menemani, dan jarak perjalanan kita lalaui ternyata aku tidak tahu siapa namamu..